Cerdas Anak, Cerdas Keluarga

Cerdas Anak, Cerdas Keluarga

Kita menemukan hal yang terkadang terlupakan dalam diri kita yaitu tentang Cerdas Anak, cerdas Keluarga. Sesekali kita mencoba berkata pada diri sendiri dan merenungkan apa yang ada dalam diri kita. Membangun kecerdasan yang paling inti ternyata berawal dari kecerdasan keluarga itu sendiri.

RENUNGKANLAH
Dicari keluarga yang lebih banyak meningkatkan
dan lebih sedikit yang menolak
Dicari keluarga yang lebih banyak melaksanakan
dan lebih sedikit yang berbicara
Dicari keluarga yang lebih banyak berkata bahwa itu bisa dilakukan dan lebih sedikit yang berkata itu mustahil
Dicari keluarga yang lebih banyak mengobarkan semangat orang lain dan lebih sedikit yang memadamkannya
Dicari keluarga yang lebih banyak turut berperan disetiap kesempatan dan lebih sedikit yang berdiam diri
Dicari keluarga yang lebih banyak menunjukkan apa yang benar
dan lebih sedikit menuding mana yang salah

Sejenak kita renungkan kalimat-kalimat diatas. Proses perenungan tersebut mengajak kita untuk menemukan bahwa kecerdasan yang ada dalam diri kita. Ternyata kecerdasan orang tua tidak bisa dipisahkan dari kecerdasan anak. Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana peran seorang Ibu dalam membangun kecerdasan keluarga? Peran seorang ibu bukan hanya pada saat melahirkan anak, membelai atau bangun di malam hari untuk memberikan susu.

Tetapi peran ibu yang lebih penting yaitu pada saat :

  • Seorang Ibu mampu memberikan sentuhan akan kepercayaan seorang Ibu terhadap Allah SWT kepada seorang anak atau disebut juga tauhid. Yaitu tentang bagaimana membangun jiwa kembali untuk menge-nalkan siapa Tuhan kita.
  • Seorang Ibu diharapkan mampu membangun tingkat kejujuran yang ada dalam dirinya. Ternyata moralitas seorang Ibu sangat dipertaruh-kan dan salah satunya adalah kejujuran. Kejujuran tidak hanya dalam perkataan atau ucapan, akan tetapi juga dalam perbuatan serta harus mampu memisahkan antara kepentingan diri sendiri dengan kepentingan keluarga. Kejujuran kita belum terlatih dengan baik. Apa buktinya? Karena apa yang diekspresikan oleh tubuh kita belum tentu sama dengan yang ada dalam hati kita. Contoh : Pada saat kita kesal dengan seseorang tetapi karena kita tidak merasa nyaman menunjukkan ketidaksenangan kita tetap menunjukkan wajah tersenyum tetapi sesungguhnya hati kita masih merasa dongkol, bahkan di dalam hati berkata, awas ya kamu!
  • Seorang Ibu mampu mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada seorang anak. Membangun hal potential dalam diri yaitu membangun cinta dan kasih sayang. Sejak seorang anak hadir ke dunia ini, yang pertama kali hadir adalah kasih sayang seorang Ibu.

Leave A Comment

Your email address will not be published.

1
Butuh bantuan ?
Hello,
Ada yang bisa kami bantu ?
Powered by