Kunci Sukses Menciptakan Kecerdasan Keluarga Dengan REAL

Kunci Sukses Menciptakan Kecerdasan Keluarga Dengan REAL

1. Relationship (silaturahmi)
Silaturahmi bukan hanya saling bertatap muka, bersalaman saat berjumpa saja tetapi kita mampu mendo’akan setiap apa yang dijumpai dan mensyukuri. Kadang kita lupa mengajak anak-anak kita untuk saling berkunjung. Yang menarik, silaturahmi dapat memberikan kesehatan jasmani dan rohani. Karena orang saling mendo’akan dan berbagi/ sharing cerita dengan orang lain itulah yang dapat membantu menjaga kesegaran berpikir dan bagaimana menikmati hidup. Adalah tugas kita untuk mencari, menjaga dan memelihara silaturahmi supaya terus terwujud. Saat anak mampu melihat dengan kacamata yang baik dan santun bahasa dan perilaku yang mampu memberikan sentuhan yang nyaman itu juga sudah menjaga silaturahmi yang baik.

2. Equipping (dukungan)
Menciptakan dukungan mental dari orang tua kepada lingkungan terdekat. Banyak anak-anak tumbuh besar, kita tidak siap dengan konsekuensi logis dari apa yang tumbuh/ berubah dari jiwa anak tersebut. Terkadang orang tua tidak siap. Misalnya ketika anak sudah berani membicarakan masalah seksualitas dengan vulgar, padahal diusia itu orang tua belum berani untuk membicarakannya. Kita lupa, sebagai orang tua harus menyiapkan mental untuk mencari terus ilmu pengetahuan. Kesimpulannya adalah kita mampu mendukung dengan ilmu pengetahuan yang lebih tahu dari anak itu, kuncinya saat anak terus tumbuh dewasa kita tidak berhenti untuk belajar sabar, paham bahkan belajar menjawab pertanyaan yang sangat mungkin disiapkan dari sisi moralitas dan bagaimana mengejawantahkan dalam bahasa yang baik. Suksesnya keluarga berarti sukses anak, orang tua dan seutuhnya kekuatan keluarga. Dari situlah kecerdasan keluarga hadir.

3. Attitude (sikap)
Yang menarik bahwa attitude/ sikap hendaknya diekspresikan kenikmatan pada saat kita mampu mengubah suatu kebiasaan seperti: kalau saat anak dapat membantu kita dengan nikmat dan melakukan sesuatu hal yang membuat kita senang, sebagai orang tua kita harus mengucapkan terimakasih. “Ayah hari ini bahagia, nikamat ya Allah”. Saat itu juga anak akan memberikan reward (penghargaan) kepada dirinya. Anak dapat membahagiakan orang tua dalam banyak hal, dengan sabar dan bahagia orang tua saya mengucapkan terimakasih dengan rasa senang di hatinya. Jadi ekspresi dibutuhkan dalam menunjukkan sikap/ attitude.

4. Leadership (kepemimpinan)
Kepemimpinan di sini bukan berarti pemimpin sebagai kepala keluarga, suami atau kekuasaan atau jabatan di kantor melainkan pemimpin bagi diri kita sendiri dengan hati. Sikap kepemimpinan yang harus ditunjukkan melalui sifat
Kejujuran Orang tua sering menanamkan kebohongan kepada anak, dengan sadar atau tidak, dimana hal itu akan berakibat menghancurkan kecerdasan spiritual (akhlaq) anak. Kecerdasan spiritual murni yang dimiliki oleh anak-anak dihantam dengan kebohongan orang tua. Karena orang tua sering mengalami gangguan kecemasan, rasa capek sehingga membuat kita tidak mampu mengucapkan kalimat-kalimat yang santun. Hal ini diperlukan latihan sehingga kita terampil/ tanggap apabila menjumpai hal-hal seperti demikian.

Latihan yang paling sederhana yaitu dengan: sharing, caring, fairing.

Sharing
Latihan berbagi cerita dengan anggota keluarga yang lain. Kapan saat yang tepat untuk sharing yaitu pada saat santai nonton TV bersama keluarga,atau pada saat melakukan ibadah bersama keluarga atau pada saat makan bersama keluarga.Berbagi cerita yang baik tidak harus diawali dengan anak yang harus sharing, tetapi dapat dimulai dengan cerita-cerita yang ringan dan lucu / hobi. Nah, disitulah kita juga dapat menanamkan nila-nilai kejujuran kepada anak.

Caring
Memunculkan rasa empati kepada sesama. Contoh: pada saat anak pusing mengerjakan PR, lalu orang tua berkomentar: “makanya belajar dong biar nggak pusing”. Padahal seharusnya kita matikan TV pada saat anak mau belajar, kita juga ikut belajar. Punya rasa empati, memahami, ikut menghormati, saat itu anak merasa punya penghargaan yang besar. Disini kejujuran mulai ditanamkan kembali.

Fairing
Kalau kita mengalami sesuatu yang belum tahu ilmu pengetahuannya, kita juga harus fair dan hendaknya mampu mengucapkan terimakasih dan mohon ma’af, supaya anak itu bisa mendapatkan reward yang lebih baik. Nah, menumbuhkan sikap benar. Kedua adalah menumbuhkan sikap terpercaya, mampu menumbuhkan terpercaya dalam hidup kita, tidak ada suatu kebohongan-kebohongan keterpercayaan dalam hidup kita. Yang ketiga, sifat cerdaspun akan dimulai dan keempat adalah keberanian menyampaikansuatu kebenaran.

Leave A Comment

Your email address will not be published.

1
Butuh bantuan ?
Hello,
Ada yang bisa kami bantu ?
Powered by